My Trading Journey


Suatu siang saya menerima sebuah panggilan telepon yang meminta waktu untuk bertemu. Sang
penelpon berniat mengabarkan suatu berita bagus mengenai bisnis investasi yang sangat
menjanjikan, katanya. Singkat cerita, akhirnya kami bertemu dan si penelepon bercerita panjang
lebar mengenai investasi di bidang future. Dia menunjukkan kepada saya gambar sebuah grafik
dengan dua buah garis (line) yang bertemu. Berdasarkan perpotongan dua garis itu, index Hangseng
Hongkong dipasikan akan naik, katanya. Selanjunya sang sales menerangkan banyak hal janji-janji
dan beberapa contoh sukses pelanggannya. Tertarik dengan cerita dan janji manis tersebut akhirnya
saya melakukan deposit. Sesuai ketentuan, deposit perdana sebesar US$ 10.000; tahun 2009
nilainya sekitar rp 100.000.000........ lah gampangnya.

Akhirnya aku berkenalan dengan dunia investasi index future. Untuk masuk ke trading platform,
saya harus masuk ke situs broker tersebut – lalu klik flatformnya – masukkan username dan password. Selesai. Hanya itu pelajaran yang saya terima. Saat akan open posisi, sang sales menelpon
saya, menerangkan panjang lebar kondisi pasar hari itu, bla-bla-bla..... akhirnya saya setuju untuk
open buy 1 lot. Dalam hitungan menit sudah kelihatan profit US$ 100. Wah gila, gampang banget
dapat duit satu juta..... dalam hitungan menit saja. Saya ditelpon lagi. Bagaimana pak? Close? Oke
deh close – lalu buka lagi...... terus beberapa kali, total hari itu kami mendapatkan profit US$ 1050,
mantap bukan???? Hari sudah menjelang senja. Pasar Hongkong sudah tutup dan saya juga bersiap
pulang ke rumah bagai calon jutawan baru (karena semua itu saya lakukan di kantor, kebetulan saat
itu saya masih bekerja di satu perusahaan asing)

Begitu selanjutnya hari-hari terus berlanjut dalam mimpi trading yang sangat indah. Kadang menang
– kadang impas – kadang juga loss. Intinya semua sesuai anjuran sang sales yang sekarang jadi
instruktur saya. Kurang dari satu bulan, saya sudah bisa (dianjurkan oleh instruktur) menarik dana
sebesar US$ 2000. Lalu bulan berikutnya lagi US$ 3.000. Kenangan indah yang terlalu manis untuk
dilupakan......
Setelah kurang lebih dua bulan mengalami bulan madu, tibalah saat yang menyesakkan dada. Suatu
hari instruktur menelpon seperti biasa memberi gambaran singkat tentang kondisi pasar hari ini. Dia
tidak bisa mendampingi saya trading karena harus menemui klien. Silakan kalau saya mau
melakukan eksekusi / open order sendiri dengan gambaran yang telah dia berikan. Saya dibreifing
singkat bagaimana melakukan open order. Dan saya merasa yakin untuk melakukannya....
Mungkin kurang beruntung atau memang apes (sama aja ya?), begitu order buy saya kirim – seolah
sudah menanti order saya, harga tiba-tiba melorot jauh ke bawah.... saya panik. Minus 645......minus 925..... minus 1222..... sang instruktur tidak menjawab telepon saya. Aduh bagaimana ini???
Keringat dingin mulai keluar, jantung berdetak keras..... tiba-tiba sang instruktur menelpon: Pak,
ordernya diclose saja. Ada berita kurang bagus soal HSBC yang menyebabkan indeks Hangseng
melorot.... Saya masih di luar tidak bisa mengeksekusi.” Aduh, bagaimana ini.... ada hubungan apa
pula HSBC dengan Hangseng. Sudahlah masa bodo. Nanti aja dipikirkan. Ini sudah minus US$ 3245
masa harus dicut loss???? Ya sudahlah, cut loss...... 
Eh baru saja saya lakukan cut loss, harga beranjak pelan-pelan mulai naik...... aduh kenapa tadi saya cut loss...... malam itu saya tak bisa tidur nyenyak. Malam itu juga saya browsing ada hubungan apa antara HSBC dengan Hangseng..... Kalau saat ini saya bayangkan lagi kejadian itu, rasanya malu sekali. Kok bisa-bisanya trading index Hangseng tanpa mengenal siapa-siapa pemain besar di dalamnya..... nekad atau memang bodoh?
Singkat kata, terlalu dramatis kalau kejadian-kejadian (kebodohan-kebodohan) dalam trading saya
ceritakan satu per satu. Pernah saya jadi sangat pede karena merasa telah menemukan formula
yang ampuh untuk mengetahui bagaimana mengatasi loss. Saya buka order kebalikannya. Hedging,
istilahnya. Hingga suatu saat, saya punya posisi buy 5 lot dan sell juga 5 lot. Stag tidak bisa bergerak
lagi, mau open order keluar peringatan “not enough money”...... mirip di atm “maaf dana anda tidak
mencukupi”. Akhirnya deposit lagi.......
Begitulah cerita trading saya saat itu. Sebenarnya tidak semuanya berita buruk. Pernah, dan kerap
juga berita baik. Kadang baik – kadang buruk, kadang senang – kadang bete,.... dan tanpa sadar
situasi tersebut merubah sifat saya pula. Perangai saya menjadi labil bak remaja yang belum
menemukan jati diri. Anak dan istri kerap jadi korbannya. Kalau lagi baik, tiba-tiba saya ajak makan
di restauran ternama di Surabaya. Kalau lagi gelap, diajak omong baik-baik aja yang keluar malah
nyolot emosi.... aduh malu deh. Hari Sabtu dan Minggu tidaklah menjadi hari libur yang
menyenangkan. Pengennya cepet-cepet hari Senin biar bisa trading lagi – balas dendam kekalahan
yang sebelumnya.
Memang ada hasilnya, saya pernah keliling Eropa dan membeli villa di Batu berkat hasil trading.
Namun tak terhitung juga berapa kali saya harus melakukan deposit dengan “koret-koret” uang
tabungan di bank. Saat itu, mungkin lebih tepatnya saya bukan lagi seorang trader melainkan
seorang penjudi kelas kakap. Penjudi kelas tinggi. Order bukan lagi satu lot tapi sudah meningkat,
kadang 1 lot, 2 lot, bahkan pernah sampai 3 lot. Saya baru akan close order kalau profit US $ 500,
kurang dari itu, no way....
Hingga tiba suatu siang di bulan Desember. Menjelang makan siang, saya sempat melihat chat saya
yang sudah membiru semua. Saya pasang target profit – tanpa pasang stop loss. Equity saya saat itu sekitar US$ 80.000. Lalu boss saya menelpon agar semua manager berkumpul di ruang meeting
untuk membahas finalisasi budget tahun 2011. Meeting yang seru – penuh semangat (karena yakin
nanti selesai meeting pasti TP saya sudah kena semua, liburan akhir tahun telah terbayang di
pelupuk mata). Meeting berjalan sangat panjang hingga menjelang malam pukul 18.45 baru
selesai...... saya bergegas ke ruangan untuk melihat hasilnya. APA?????? Saldo saya nol. Uang saya
habis. Saya tidak percaya dengan mata saya. Mungkin saya salah memasukkan username dan
password. Saya coba, bahkan laptop saya restart.... buka lagi..... hasilnya SAMA. Saldo saya habis...... apa gerangan yang terjadi? Saya buka hp. Wah ternyata sang instruktur berkali-kali menelepon saya.
Di ruang meeting kami tidak boleh menerima telepon. Sekarang pasti dia sudah pulang dan seperti
biasanya, di luar jam kerja, hpnya off. Saya merasa pasti ada yang tidak beres....Saya coba cari tahu
apa yang terjadi dengan mencari di situs berita. Ternyata baru saja terjadi bencana tsunami yang
sangat dahsyat di Jepang. Pasar Hangseng sempat terseret turun sangat dalam – dan saat itulah
dana saya tersedot habis – sebelum kemudian pelahan naik sedikit-sedikit......
Itulah akhir petualangan saya di pasar index Hangseng. Setelah kejadian itu saya bertobat, tidak lagi
trading. Setiap ada tawaran telepon untuk ngajak ketemuan, langsung saya tebak: mau ngajak
trading ya! Lalu saya maki-maki si penelpon. Singkat kata, bagi saya trading itu hanya memberi
mimpi. Ujung-ujungnya kita akan diperas habis oleh sang broker.
Genap dua tahun sudah semua berlalu dan mengendap dalam memori. Hingga suatu saat seorang
adik kelas saya saat masih di bangku kuliah mengontak saya. Ngobrol-ngobrol ngalor-ngidul akhirnya
dia menceritakan mengenai pelatihan yang sedang dia buat: pelatihan investasi trading forex. Apa
pula ini….. saya sempat apatis dan jadi ill feel mendengar ceritanya. Namun ia sempat meyakinkan
saya bahwa kesalahan para trader adalah tidak belajar – atau salah belajar sehingga timbul persepsi
yang salah soal trading. Dan satu hal lagi dikatakan teman ini bahwa selama belajar, saya cukup
pakai akun demo saja. Setelahnya pun tidak perlu modal besar, hanya USD 100 saja saya bisa
berlatih mengasah teknik-teknik yang telah dipelajari. Baru pelahan setelah mental dan psikologis
terbentuk, kita bisa meningkatkan akun menjadi akun standard. Itu pun tetap harus SADIS kata dia.
Kok SADIS? Iya sabar dan disiplin. Sabar, tidak perlu mengejar market. Dia tidak akan kemana-mana
– kita tidak akan ketinggalan. Sering trader tergesa memasuki arena transaksi seolah takut
ketinggalan, sementara kondisi-kondisi yang disyaratkan untuk entry sebenarnya belum terpenuhi
secara sempurna. Disiplin, kalau memang pasar bergerak diluar perkiraan kita, ya harus berani
cutloss. Stop Loss bukan suatu kerugian melainkan justru pagar pengaman agar trader tidak semakin
jauh merugi hingga habis equitynya. Stoploss bagaikan jumlah resiko / modal yang mesti dikeluarkan saat kita berbisnis. Bisnis apapun itu pasti ada resikonya. Akhirnya dia memberi saya sebuah flash
disk yang berisi ebook belajar trading (buku ini sebagian saya sadur dari ebooknya). Dan sejak saat
itu, saya belajar trading dari nol melalui dia. Terima kasih untuk Tutor Pertama-ku yang sekarang
telah di surga. Doakan saya dari sana agar profit konsisten ya mas!

Sepeninggalan tutor pertama ku, aku masih gamang. Namun mulai ada titik terang yang pasti :
menjadi trader harus BELAJAR. Ya terus BELAJAR. Jangan pernah merasa puas dan sudah mentok
ilmunya. Belajar dari siapa saja – dan terutama dari kesalahan-kesalahan yang kita buat.
Pengembaraan mencari ilmu dimulai. Saya bergabung dengan aneka macam komunitas dan
seminar/workshop trading forex. Trading forex paling tepat jika dilakukan di dalam satu komunitas.
Kita bisa berbagi banyak hal mengenai trading di dalamnya, termasuk “bocoran signal” untuk entry.
Saya mulai haus akan teknik-teknik strategy trading. Berpindah dari satu system ke system yang lain.
Mencari mana yang paling jago. Mana yang bisa terus menghasilkan dollar. Perjalanan kali ini sangat
melelahkan. Pencarian yang tak ada henti. Di dalam kota, di luar kota, bahkan sempat pula berguru
ke manca negara…. Bahkan pernah saya “nyantrik” ke rumah master trading di daerah Cilacap coret
(maksudnya masuk ke dalam pelosok, bukan kota) di mana signal HP pun minim dan internet hanya
bisa dijangkau pakai semacam saluran khusus (mirip parabola), yang tiap ada petir atau hujan hilang
signalnya.
Apakah saya sudah profit konsisten? Rupanya masih jauh panggang dari api. Masih jatuh bangun.
Kadang loss kadang profit. Tidak mumpuni dengan biaya-biaya workshop dan seminar yang
harganya jutaan bahkan ada yang puluhan juta. Ada yang salah? Saya merenung…… rupanya
memang ada yang salah. Salah besar malah menurut saya. Apa? Rupanya cara belajar saya salah –
atau lebih tepatnya saya salah belajar. Saya melahap semua yang diberikan, sementara pondasi
pengetahuan mengenai trading forex ala kadarnya. Inilah salah satu yang membuat trader loss. Dia
tidak mempunyai basic pemahaman yang mumpuni soal investasi yang sedang digeluti. Secara
guyon kerap saya sampaikan kepada para tutor yang menghelat workshop atau seminar, bahwa
justru ikut workshop dan seminar lah yang membuat para trader kolaps. Lho kok bisa? Mereka
protest! Lha iya. Seminar dan workshop itu mengajarkan strategy-strategy atau teknik-teknik
terapan dalam trading forex. Ibaratnya udah kelas mahasiswa. Namun tak jarang di tengah-tengah
workshop masih ada yang tanya: maaf, pips itu apa ya???? Haloooo!!!!
Ibarat sekolah kedokteran, kita sedang diajari menangani pasien sakit jantung, langkah-langkah apa
yang harus dilakukan, suntikan apa yang harus diberikan, dan sebagainya. Sementara para
pesertanya SMA, SMP atau mungkin SD pun belum lulus. Bagaimana mungkin saat mereka nantinya menghadapi badai pasar forex yang terkenal ganas dan kejam itu? Lalu solusi yang ditawarkan juga
sangat aneh dan instant. Workshop 3 hari misalkan: hari pertama tentang apa itu forex, buka akun
dan pengenalan metatrader. Hari kedua tentang indicator-indicator teknikal yang seabreg itu. Hari
ketiga masuk ke senjata andalan tutor: jurus-jurus atau teknik-teknik trading yang diyakini ampuh
menghadapi pasar. Haloooooo, saya yakin di hari ketiga para peserta yang masih niebie itu masih
mencari-cari dimana tombol entry order berada….. Trus setelah ikut workshop tiga hari mereka
keluar ruangan dengan sangat yakin bahwa besok mereka sudah bisa merampok dollar dan membeli
pulau….. pulau impian??? Penghasilan seorang trader bisa saja melampuai penghasilan seorang
dokter. Berapa lama dokter belajar? Setahu saya sekurangnya enam tahun mereka belajar…. Masa
belajar 3 hari sudah yakin bisa mendapatkan penghasilan melebihi mereka yang belajar enam
tahun? Mikir! Kata Cak Lontong.
Karena itulah buku ini dibuat dan pelatihan ini dilakukan. Saya pribadi bertekad, sekiranya saya telah
bisa konsisten di dunia trading forex, saya akan mengajarkan minimal basic pengetahuan trading
kepada para pemula yang berniat memasuki dunia trading. Para pemula yang masih fresh, belum
terkontaminasi workshop-workshop dan seminar-seminar. Kita belajar bersama mulai nol. Ada dua
syarat yang saya ajukan:

1. Saya tidak mau instant!
Artinya saya lebih suka model pelatihan dari pada workshop apalagi seminar. Pelatihan artinya para
peserta dilatih untuk nantinya jadi trader mandiri. Dilatih dalam kurun waktu yang cukup, mulai
pemahaman konsep hingga praktek. Dilatih untuk masuk ke pasar forex mulai dengan akun demo
dan kemudian akun micro. Saya memandang sistem 50 jam di kelas adalah yang paling tepat. Sistem
ini memakan waktu sekurangnya tiga bulan kelas tatap muka dengan asumsi seminggu dua kali
pertemuan. Pertemuan dalam kelas, dilanjutkan dengan homework, dan dibahas bersama dalam
group / komunitas online adalah metode belajar yang sangat tepat. Buku ini disusun sebagai buku
pegangan dasar yang harus dilengkapi dengan aneka macam pengetahuan soal trading forex
lainnya. Buku ini disusun sedemikian rupa bukan secara ilmiah (nyaris tanpa cacatan kaki), diambil
copy paste dari aneka sumber di sana-sini, bukan semuanya ide original dari penulis. Mohon
maklum.

2. Harus MURAH namun TETAP BERBAYAR
Kenapa berbayar? Agar para peserta pelatihan benar-benar mempunyai motivasi dan niat. Gratis
kerap kali justru membuat arti belajar menjadi kurang berarti. Disamping tentu saja karena ada
biaya-biaya yang musti dikeluarkan selama pelatihan. Namun harus murah! Mungkin pelatihan kami
ini yang termurah di dunia untuk ukuran pelatihan basic trading forex secara intensive selama tiga
bulan, dua kali pertemuan selama kurang lebih dua setengah jam. Silakan dibandingkan sendiri. Ya
murah karena muridnya banyak! Tidak. Maaf kami membatasi per kelas maksimal hanya 15 orang
saja. 5 orang saja yang mendaftar pun kelas akan berjalan. Lebih lagi ada kelas siang dan kelas
malam. Para peserta bisa bebas menentukan kelas pilihannya, sesuai kesibukan masing-masing.
Tujuan akhir dari pelatihan ini bukan tujuan dangkal: menghasilkan uang / profit melainkan
mencetak para trader yang mandiri. Saya pribadi mengibaratkan diri seperti para guru Sekolah
Dasar. Mereka mengajari muridnya dari kelas satu (ada yang masih suka ngompol), membaca dan
menulis mulai dengan alphabet….. hingga akhirnya sang murid akan jauh melampaui si guru. Jauh
lebih pandai – jauh lebih sukses. Saya pun berharap demikian. Mungkin suatu saat nanti para
peserta pelatihan ini akan bertemu saya di satu pelatihan lain yang lebih advance. Jangan pernah
berhenti belajar! Dan betapa bangganya saya jika diantara mereka ada yang berhasil profit konsisten
dan mampu menyejahterakan keluarganya. Rejeki Tuhan yang mengatur, kita hanya berupaya
mendapatkan ridho-Nya saja.

Puji Tuhan tak terasa telah empat tahun saya menjadi trader forex full time. Semua berkat Anugerah
Tuhan dan pendampingan para mentor: Doni Kristianto Alm, Mr. FX Secundo Lee Alm dan juga
teman dan guru saya Bapak Hartanto Sungkan. Sebagaimana hidup dan kehidupan adalah
perjalanan mengenal diri sendri, demikian juga liku-liku kehidupan seorang trader forex. Seorang
trader sejati pasti paham siapa dirinya. Hanya dia yang telah selesai dengan dirinya, berdamai
dengan dirinya sendiri yang mampu menjadi trader yang sejati. Mengapa demikian? Karena musuh
pertama dan utama para trader adalah dirinya sendiri. Ketakutan sekaligus keserakahannya sendiri.
Gnoti Seauton, kata Socrates, kenalilah dirimu sendiri!

Sidoarjo, 6 September 2017

Selamat Ulang Tahun Ben!


FX Sutjiharto MM

Comments

Popular posts from this blog

KELAS MEMBUAT EA / ROBOT

ONLINE CLASS